![]() |
| STIkes Gumato Gelar Penyuluhan Kesehatan bertema Peran Kader dalam Upaya Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, (Foto Ist) |
Tomohon|||CK— Komitmen mempercepat penurunan angka stunting terus diperkuat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Maria Tomohon menggelar kegiatan Penyuluhan Kesehatan bertema Peran Kader dalam Upaya Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting, Kamis (26/2/2026), di Balai Kelurahan Kakaskasen Satu.
Pada kesempatan itu, Ketua STIKes Gunung Maria Tomohon Henny Y. Pongantung, Ns., MSN., DN.Sc yang diwakili oleh Mareyke Y.L. Sepang, S.Kep., Ns., M.Kes, mengakui penyuluhan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader, baik dari sisi pengetahuan maupun keterampilan, agar semakin optimal dalam menjalankan peran sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
Mareyke Y.L. Sepang, S.Kep., Ns., M.Kes, memaparkan secara komprehensif mengenai stunting, mulai dari pengertian, penyebab, hingga dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Ia menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus dimulai sejak remaja putri, calon pengantin, masa kehamilan, hingga anak berusia lima tahun. Pemenuhan gizi seimbang, pemeriksaan kehamilan rutin, pemberian ASI eksklusif, serta MP-ASI yang tepat menjadi fondasi utama dalam menurunkan angka stunting,” ujar Sepang.
Ia juga menambahkan bahwa edukasi kepada keluarga mengenai pola asuh, sanitasi, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan bagian penting dalam memutus siklus masalah gizi. “Jika kader mampu memberikan pemahaman yang benar kepada keluarga, maka upaya penurunan stunting akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Kansia A. Terok, Ners., M.Kep menyoroti pentingnya deteksi dini sebagai strategi percepatan penurunan stunting. Menurutnya, kader memiliki peran strategis dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin melalui pengukuran tinggi dan berat badan, serta pencatatan perkembangan di posyandu.
“Deteksi dini adalah kunci. Jika gangguan pertumbuhan ditemukan lebih awal, intervensi bisa segera dilakukan sehingga anak tidak sampai mengalami stunting permanen,” jelas Terok.
![]() |
| Mareyke Y.L. Sepang, S.Kep., Ns., M.Kes, saat memberikan materi. (Foto Ist) |
Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas kader dalam pendampingan keluarga berisiko sangat diperlukan. “Kader bukan hanya mencatat, tetapi juga mendampingi, mengedukasi, dan memotivasi keluarga untuk menerapkan pola makan bergizi, memperbaiki sanitasi, serta memanfaatkan layanan kesehatan secara optimal. Dengan keterlibatan aktif kader, percepatan penurunan stunting di tingkat kelurahan akan lebih nyata,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, STIKes Gunung Maria Tomohon menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah daerah untuk percepatan penurunan stunting melalui pemberdayaan kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, demi terwujudnya generasi Tomohon yang sehat dan berkualitas.
Kegiatan ini turut melibatkan perwakilan dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tomohon melalui Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga yang memberikan penjelasan mengenai pemanfaatan BKB Kit Stunting sebagai media edukasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB).
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tomohon Mareyke Manengkey menegaskan bahwa pentingnya sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan kader dalam menekan angka stunting.
“Kader merupakan ujung tombak dalam mendampingi keluarga. Melalui penguatan kapasitas kader seperti ini, kami optimistis upaya percepatan penurunan stunting di Kota Tomohon dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran,” ungkap Manengkey.
Ia juga menjelaskan bahwa program Bina Keluarga Balita (BKB) menjadi salah satu instrumen strategis dalam intervensi stunting berbasis keluarga. Pemanfaatan BKB Kit Stunting, lanjutnya, dirancang untuk membantu kader dalam memberikan edukasi yang sistematis dan mudah dipahami oleh orang tua balita.
“Melalui BKB Kit Stunting, kader dibekali media edukasi yang aplikatif untuk menjelaskan pentingnya gizi seimbang, pola asuh yang tepat, serta pemantauan tumbuh kembang anak. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan keterlibatan keluarga dalam mencegah stunting sejak dini,” jelasnya.
![]() |
| Kansia A. Terok, Ners., M.Kep, saat memberikan materi. (Foto Ist) |
Manengkey menekankan bahwa percepatan penurunan stunting tidak hanya berbicara soal intervensi gizi, tetapi juga menyangkut ketahanan keluarga, perencanaan kehamilan, serta peningkatan kualitas pengasuhan anak.
“Kami terus mendorong penguatan program ketahanan dan kesejahteraan keluarga, karena pencegahan stunting harus dimulai dari keluarga yang sehat, terencana, dan memiliki pemahaman yang baik tentang tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara STIKes Gunung Maria Tomohon, DPPKBD Kota Tomohon, Dinkes Kota Tomohon, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta para kader, diharapkan percepatan penurunan stunting di wilayah Tomohon Utara dapat semakin nyata dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dihadiri Camat Tomohon Utara bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tomohon Utara, Kepala Dinas PPKBD Kota Tomohon, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga beserta jajaran, Kepala Puskesmas Kakaskasen dan staf, Lurah serta Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Kakaskasen Satu, para kader kesehatan dan kader KB se-Kecamatan Tomohon Utara, serta civitas akademika STIKes Gunung Maria Tomohon.
Kegiatan yang diikuti 150 peserta ini menghadirkan kader kesehatan dan kader keluarga berencana se-Kecamatan Tomohon Utara.
(MiRa)














