![]() |
Tomohon|||CK— Wali Kota Tomohon, Caroll Senduk, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Tomohon dalam mempercepat transformasi pengelolaan sampah menuju konsep zero waste. Penegasan tersebut disampaikan dalam Workshop Zero Waste Lifestyle Tomohon City yang dirangkaikan dengan kolaborasi penyusunan City Technical Proposal program ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Phase II, di Command Centre Tomohon, Selasa (24/2).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Tahap II yang didukung UN-Habitat. Program ini merupakan tindak lanjut dari Master Plan on ASEAN Connectivity 2025, yang bertujuan memperkuat pembangunan kota-kota berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara, khususnya kota menengah dan sekunder seperti Tomohon.
Dalam sambutannya, Wali Kota menyebut tantangan urbanisasi semakin kompleks, terutama di tengah pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya alam. Ia menekankan bahwa persoalan persampahan, sanitasi, dan akses air bersih menjadi isu paling mendesak di Kota Tomohon.
Data yang dipaparkan menunjukkan timbunan sampah di Tomohon mencapai ±51,6 ton per hari, dengan sekitar 70 persen merupakan sampah organik yang belum terkelola optimal. Seluruh sampah saat ini masih terpusat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Taratara seluas 5,3 hektare.
Meski dirancang sebagai sanitary landfill, praktik di lapangan disebut masih menggunakan sistem open dumping. Selain itu, Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) di TPA tersebut belum berfungsi maksimal. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan jika tidak segera dibenahi.
“Jika tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan, persoalan sampah akan menjadi ancaman serius bagi kualitas lingkungan dan ketahanan kota,” tegas Senduk.
Sebagai salah satu kota peserta ASUS, Tomohon telah menetapkan fokus utama pada sektor pengelolaan sampah, sejalan dengan target nasional Indonesia Bebas Sampah 2029. Partisipasi ini diperkuat melalui keikutsertaan dalam ASEAN Sustainable Urbanisation Forum (ASUF) di Kuala Lumpur.
Dalam ASUS Tahap II, Pemerintah Kota Tomohon akan memvalidasi City Diagnostic Report serta menyusun City Technical Proposal secara kolaboratif bersama para pemangku kepentingan. Dokumen tersebut akan menjadi dasar perumusan arah kebijakan dan intervensi teknis pengelolaan sampah ke depan.
Pemkot juga tengah mengembangkan sejumlah inisiatif, antara lain Program pengolahan sampah organik berbasis sumber (PPSOT), Perluasan integrated farming di Kelurahan Kakaskasen, Program community composting sebagai proyek percontohan di Kelurahan Tara-Tara Raya, Penguatan peran Bank Sampah Induk.
Namun, Wali Kota mengakui masih terdapat sejumlah persoalan mendasar, di antaranya lemahnya koordinasi lintas sektor, belum terintegrasinya data persampahan, keterbatasan regulasi teknis, minimnya konektivitas antara inovasi masyarakat dengan sistem formal pemerintah, serta keterbatasan anggaran.
Melalui workshop ini, Pemkot menargetkan lahirnya rekomendasi konkret yang dapat langsung diimplementasikan dalam kerangka ASUS II. Pemerintah berharap kolaborasi dengan UN-Habitat dan para pemangku kepentingan mampu mempercepat transisi menuju sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, berbasis data, dan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi momentum memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan Tomohon yang bersih, hijau, dan sehat,” ujar Senduk.
Dengan beban sampah yang terus meningkat dan sistem pengelolaan yang masih perlu pembenahan, implementasi konkret dari proposal teknis ASUS II akan menjadi ujian nyata bagi keseriusan Kota Tomohon dalam bertransformasi menuju kota berkelanjutan di tingkat regional ASEAN.
Turut mendampingi wali Kota Tomohon diantaranya, Wakil Wali Kota Tomohon, Sendy Rumajar, S.E., M.I.Kom, Ketua DPRD Kota Tomohon, Ferdinand Turang, S.Sos, Ketua TP-PKK Kota Tomohon, drg. Jeand’arc Senduk-Karundeng, Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Tomohon, Harriet Marzan, S.E, Para akademisi dan pemerhati lingkungan, Jajaran Pemerintah Kota Tomohon.
Sementara itu, narasumber dari UN-Habitat, Sovanarith Sieng, Urban Development Exper, Mula Pralampita Nursetianti, Local Project Officer Indonesia.
(MiRa)












