![]() |
Tomohon|||CK- Waktu boleh memisahkan langkah dan mengubah jalan hidup, tetapi persahabatan sejati selalu menemukan jalannya untuk kembali pulang. Setelah terpisah selama 25 tahun, alumni SMP Negeri 4 Tomohon angkatan 2001 kembali dipertemukan oleh kenangan, tawa, dan rasa persaudaraan yang tak pernah pudar.
Tahun 2001 menjadi gerbang awal perjalanan kami menapaki dunia remaja. Dari bangku sekolah dasar, langkah-langkah kecil itu membawa kami ke sebuah bangunan sederhana bernama SMP Negeri 4 Tomohon. Sekolah yang kala itu masih belia, berdiri dengan segala keterbatasan, namun menjadi saksi tumbuhnya mimpi-mimpi anak-anak Tara-Tara Raya.
Di sanalah kami belajar mengeja masa depan. Seragam putih biru menjadi saksi tawa dan canda, juga cerita-cerita kecil yang tak pernah tercatat dalam buku pelajaran. Hari-hari dijalani dengan semangat khas remaja, diwarnai kenakalan polos yang justru menguatkan ikatan persahabatan.
Waktu kemudian berlari tanpa aba-aba. Usai menuntaskan pendidikan di SMP, kami melangkah ke arah yang berbeda. Sebagian melanjutkan ke SMA, sebagian lainnya memilih SMK. Setelah masa putih abu-abu berlalu, jalan hidup kian bercabang. Ada yang langsung bergulat dengan dunia kerja, ada pula yang meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
Tahun-tahun berlalu. Kesibukan, tanggung jawab, dan jarak perlahan merenggangkan pertemuan. Namun kenangan tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya diam di sudut hati, menunggu waktu untuk kembali disapa.
Awal tahun 2026 menjadi titik temu kerinduan itu. Melalui sebuah grup pesan sederhana, terjalin kembali niat untuk bersua, menghidupkan ulang kisah-kisah lama yang pernah terukir di ruang kelas SMP Negeri 4 Tomohon.
Pertemuan pun disepakati. Minggu, 25 Januari 2026, menjadi hari yang dinanti. Bukan di gedung megah atau ruang berpendingin udara, melainkan di hamparan persawahan wilayah utara Kelurahan Tara-Tara. Alam menjadi saksi. Gunung Lokon berdiri anggun di kejauhan, seolah ikut menjaga kebersamaan yang kembali terajut.
Tawa pun pecah, menyatu dengan semilir angin dan aroma masakan yang dibakar bersama. Cerita lama diulang tanpa beban, kenakalan masa sekolah dikenang dengan senyum, dan persahabatan terasa hangat seperti dahulu. Tidak ada jarak, tidak ada sekat—yang ada hanyalah rasa pulang.
Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun pada hari itu, semuanya seolah luruh. Kenangan yang sempat terdiam kini hidup kembali dalam obrolan, canda, dan senyum yang tulus. Di antara kepulan asap dan tawa yang pecah, satu hal kembali disadari: persahabatan sejati tak pernah usang dimakan zaman.












